Perkembangan Dunia Seni Lawak Indonesia

Dunia lawak dan komedi di dunia terus mengalami perubahan-perubahan. Termasuk dengan di Indonesia. Seni lawak mulai dari gaya ala Ketoprak atau Lenong tahun 60 dan 70-an seperti Srimulat dan Jayakarta, lalu konsep group tahun 90-an seperti Warkop DKI, Patrio, 4 Sekawan, hingga kini stand up comedy di tahun 2000-an yang dipopulerkan Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan Mongol. Setiap generasi diwakilkan gaya komedi yang berbeda – beda. Walau stand up comedy dinilai sebagai era baru komedi Indonesia, namun bukan berarti menggantikan, tetapi saling melengkapi. Karena masing – masing konsep dan gaya komedi tadi masih disukai hingga sekarang.

Konsep Lenong (Srimulat)

Ini sebenarnya cikal bakal komedi di tanah air dimana berasal dari budaya. Lenong (berbeda nama di daerah lain) pada zaman dulu masih sebatas drama dengan disisipi lelucon, contohnya seperti berbalas pantun jenaka dan sebagainya. Konsep ini dimana satu group bisa diisi oleh 10 lebih personil sekali tampil. Gaya komedinya pun lebih tradisional, dan lebih didominasi gaya slapstik. Salah satu yang paling terkenal hingga saat ini adalah Srimulat, lalu ada Jayakarta, dan Kwartet Jaya. Tapi Srimulat memang yang lebih dikenal masyarakat. Bukan hanya karena salah satu group yang paling tua, namun beberapa personil mereka masih aktif di dunia hiburan Indonesia. Lahir tahun 1950 di Solo oleh Teguh Slamet Rahardjo, kemudian mendirikan cabang – cabangnya di Surabaya, Semarang, Surakarta, dan Jakarta. Dapat dikatakan group lawak ini adalah group yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia. Beberapa alumninya yang terkenal adalah Tarzan, Tessy, almarhum Asmuni, almarhum Mamiek, dan Gogon. Srimulat merupakan kiblat komedi Indonesia pada masanya. Tarzan, Nunung, dan Polo masih sering mengisi layar kaca Indonesia walau tidak lagi bersama Srimulat.

Konsep Group (Warkop)

Konsep ini adalah konsep dimana group diisi personil yang lebih sedikit, 3 sampai 5 orang. Gaya komedinya pun lebih modern ke-anak mudaan atau gaya mahasiswa. Ada beberapa group lawak terkenal di tahun 80 dan 90-an dengan konsep ini di Indonesia seperti Patrio, Bagito, Cagur, dan sebagainya. Namun hanya ada satu nama yang dapat dikatakan legenda, Warkop DKI. Berawal dari acara radio di “Prambors” pada tahun 1973 yang digagas oleh Temmy Lensapura (produser hiburan radio Prambors saat itu), tahun itu (masih bernama Warkop Prambors) anggotanya 5 orang yaitu Dono, Kasino, Indro, dan Nanu, dan Rudy Badil. Lalu Rudy Badil keluar disusul Nunu, sehingga tinggal Dono, Kasini, dan Indro yang tersisa. Pada formasi inilah group lawak ini mencapai puncak kesuksesannya. Mulai merambah panggung ke panggung, lalu layar lebar, sampai ke studio rekaman album lagu. 30 lebih film yang mereka produksi masih sering ditayangkan di layar kaca Indonesia dimana pencinta group ini masih sangat banyak dari yang tua sampai yang muda. Kini sepeninggalan almarhum Kasino dan Dono, Indro lah angggota terakhir group ini. Indro sendiri masih aktif dalam dunia hiburan, salah satunya menjadi juri stand uo comedy di salah satu televisi swasta.

Konsep Stand Up

Konsep seni lawak yang satu ini yang sedang digandrungi masyarakat saat ini. Gaya komedi ini adalah dimana satu orang komedian (disebut dengan komika) membawakan materi lawakannya yang diciptakan sendirian di atas panggung dengan cara monolog dengan topik apa saja. Konsep ini terlebih dahulu terkenal di luar negeri khususnya Amerika dengan Woody Allen, Chris Rock, Bill Cosby, dan masih banyak lagi. Sedangkan di Indonesia, ada Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, Mongol, dan masih banyak lagi dimana komunitas stand up comedy sedang menjamur di berbagai daerah dan menghasilkan talenta – talenta yang berkualitas. Acara lawak televisi saat ini pun didominasi sebagian besar dengan konsep seperti ini.

Dengan beberapa gaya dan konsep seni lawak di atas, bukan berarti mereka saling bersaing untuk mengalahkan satu sama lain, karena mereka memiliki segmentasi penggemar masing – masing. Tidak jarang anak muda yang masih suka dengan gaya lawakan Srimulat, atau orang tua yang rajin menyaksikan stand up comedy.

Selain itu sebenarnya ada beberapa komedian terkenal Indonesia yang lebih dikenal karena tampil di film layar lebar dan tidak melakukan stand up comedy seperti almarhum Bing Slamet, almarhum Benyamin Sueb, dan masih banyak lagi. Kira – kira inovasi apa lagi yang akan menghiasi dunia komedi Indonesia di masa mendatang?

Kunjungi website Talent-Hub untuk membooking pelawak favoritmu dengan mudah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top